SANG PENARI — PART 2

“PERJANJIAN BULAN PURNAMA”

Sejak malam Sri Lestari berlutut di hadapan Sang Buto di pendopo tua tengah sawah, hidupnya berubah sepenuhnya.

Apa yang ia minta benar-benar diberikan.

Nama Sri Lestari mulai dikenal dari desa kecil hingga kota-kota besar. Tarian tradisionalnya menjadi legenda. Bangsawan, pejabat, hingga pengusaha kaya saling berebut mengundangnya tampil di pesta mereka. Mereka rela membayar mahal demi melihat Sri Lestari menari satu malam saja.

Emas. Perhiasan. Rumah mewah. Kain sutra. Semua hal yang dulu hanya bisa ia lihat dari kejauhan kini menjadi miliknya.

Namun perjanjian dengan kegelapan tidak pernah gratis.

Sebagai gantinya, Sri Lestari harus kembali ke kerajaan gaib Sang Buto setiap malam Jumat saat bulan purnama datang. Di tempat itu, ia bukan lagi penari terkenal yang dipuja manusia. Ia hanyalah milik Sang Buto.

Setiap ritual selalu dimulai dengan gamelan tua yang berbunyi sendiri di tengah pendopo merah penuh kabut. Sri Lestari menari sepanjang malam di hadapan makhluk raksasa itu, hingga perlahan ia mulai kehilangan dirinya sendiri.

Meski hidup dalam kemewahan, ada sesuatu yang berubah dalam diri Sri Lestari. Tatapannya menjadi dingin. Senyumnya terasa kosong. Orang-orang mulai percaya tariannya bukan lagi sekadar seni, melainkan kutukan. Beberapa pria bahkan jatuh gila setelah terlalu lama menontonnya menari.

Namun Sri Lestari tetap melanjutkan semuanya.

Karena ia takut kehilangan hidup yang selama ini ia impikan.

Hampir lima tahun berlalu seperti itu.

Hingga suatu malam, Sri Lestari bertemu seorang pengusaha muda yang berbeda dari pria-pria lain. Ia tidak memandang Lestari seperti barang mewah yang harus dimiliki. Ia berbicara padanya seperti manusia biasa.

Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun hidup dalam dunia gelap dan glamor…

Sri Lestari kembali merasakan kehangatan.

Mereka mulai sering bertemu diam-diam setelah pertunjukan selesai. Di pendopo privat, di hotel-hotel mewah, di malam hujan yang sunyi. Sedikit demi sedikit, Sri Lestari mulai melupakan perjanjiannya dengan Sang Buto.

Ia jatuh cinta.

Namun di setiap malam purnama, Sang Buto mulai menyadari perubahan itu.

Kerajaan gaib menjadi semakin dingin. Gamelan terdengar lebih lambat dan menyeramkan. Dan untuk pertama kalinya sejak perjanjian mereka dimulai…

Sang Buto berdiri dari singgasananya.

Sri Lestari akhirnya sadar bahwa dirinya tidak pernah dianggap tamu di dunia itu.

Ia hanyalah milik yang mulai mencoba melarikan diri.


---

Disclaimer: “SANG PENARI” adalah cerita fiksi horror folklore yang dibuat berdasarkan imajinasi dengan bantuan AI. Segala kesamaan nama, tempat, kejadian, maupun unsur lain di dunia nyata hanyalah kebetulan yang tidak disengaja.
SANG PENARI — PART 2 “PERJANJIAN BULAN PURNAMA” Sejak malam Sri Lestari berlutut di hadapan Sang Buto di pendopo tua tengah sawah, hidupnya berubah sepenuhnya. Apa yang ia minta benar-benar diberikan. Nama Sri Lestari mulai dikenal dari desa kecil hingga kota-kota besar. Tarian tradisionalnya menjadi legenda. Bangsawan, pejabat, hingga pengusaha kaya saling berebut mengundangnya tampil di pesta mereka. Mereka rela membayar mahal demi melihat Sri Lestari menari satu malam saja. Emas. Perhiasan. Rumah mewah. Kain sutra. Semua hal yang dulu hanya bisa ia lihat dari kejauhan kini menjadi miliknya. Namun perjanjian dengan kegelapan tidak pernah gratis. Sebagai gantinya, Sri Lestari harus kembali ke kerajaan gaib Sang Buto setiap malam Jumat saat bulan purnama datang. Di tempat itu, ia bukan lagi penari terkenal yang dipuja manusia. Ia hanyalah milik Sang Buto. Setiap ritual selalu dimulai dengan gamelan tua yang berbunyi sendiri di tengah pendopo merah penuh kabut. Sri Lestari menari sepanjang malam di hadapan makhluk raksasa itu, hingga perlahan ia mulai kehilangan dirinya sendiri. Meski hidup dalam kemewahan, ada sesuatu yang berubah dalam diri Sri Lestari. Tatapannya menjadi dingin. Senyumnya terasa kosong. Orang-orang mulai percaya tariannya bukan lagi sekadar seni, melainkan kutukan. Beberapa pria bahkan jatuh gila setelah terlalu lama menontonnya menari. Namun Sri Lestari tetap melanjutkan semuanya. Karena ia takut kehilangan hidup yang selama ini ia impikan. Hampir lima tahun berlalu seperti itu. Hingga suatu malam, Sri Lestari bertemu seorang pengusaha muda yang berbeda dari pria-pria lain. Ia tidak memandang Lestari seperti barang mewah yang harus dimiliki. Ia berbicara padanya seperti manusia biasa. Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun hidup dalam dunia gelap dan glamor… Sri Lestari kembali merasakan kehangatan. Mereka mulai sering bertemu diam-diam setelah pertunjukan selesai. Di pendopo privat, di hotel-hotel mewah, di malam hujan yang sunyi. Sedikit demi sedikit, Sri Lestari mulai melupakan perjanjiannya dengan Sang Buto. Ia jatuh cinta. Namun di setiap malam purnama, Sang Buto mulai menyadari perubahan itu. Kerajaan gaib menjadi semakin dingin. Gamelan terdengar lebih lambat dan menyeramkan. Dan untuk pertama kalinya sejak perjanjian mereka dimulai… Sang Buto berdiri dari singgasananya. Sri Lestari akhirnya sadar bahwa dirinya tidak pernah dianggap tamu di dunia itu. Ia hanyalah milik yang mulai mencoba melarikan diri. --- Disclaimer: “SANG PENARI” adalah cerita fiksi horror folklore yang dibuat berdasarkan imajinasi dengan bantuan AI. Segala kesamaan nama, tempat, kejadian, maupun unsur lain di dunia nyata hanyalah kebetulan yang tidak disengaja.
0 Comments 0 Shares 596 Views