SANG PENARI — PART FINAL

Hujan turun perlahan malam itu ketika Sri Lestari duduk sendirian di kamar mewah penginapan tempat ia biasa bertemu lelaki yang selama ini dicintainya.

Tangannya gemetar memegang kain batik kecil yang membungkus ramuan dari dukun desa.

Ia menatap kosong ke arah cermin.

Tubuhnya mulai berubah.

Dan jauh di dalam hatinya, Sri Lestari sadar bahwa kutukan itu akhirnya datang menagih janji.

Ia mengandung anak dari lelaki manusia.

Malam itu juga Lestari mendatangi sang pengusaha muda yang selama ini memberinya cinta dan harapan. Lelaki itu adalah satu-satunya tempat ia percaya bisa berlindung dari murka Sang Buto.

Namun semua harapannya hancur.

Di rumah megah milik lelaki itu, Sri Lestari justru melihat seorang wanita dan anak kecil menyambut kepulangan sang pengusaha.

Lelaki itu ternyata telah memiliki keluarga.

Dan lebih buruk lagi…

ia tidak pernah benar-benar mencintai Sri Lestari.

“Aku hanya menginginkanmu sebagai penari… bukan sebagai bagian hidupku.”

Kalimat itu menghancurkan Sri Lestari sepenuhnya.

Ia pergi di tengah hujan deras dengan tubuh gemetar dan hati yang hancur. Gaun hitam mewah yang dulu membuatnya dipuja kini terasa seperti kutukan yang membungkus tubuhnya.

Dalam perjalanan pulang menuju gubuk reyot tempat semuanya dimulai, Sri Lestari merasa suara gamelan kembali terdengar dari kejauhan.

Pelan.

Memanggilnya.

Dan untuk pertama kalinya sejak membuat perjanjian dengan Sang Buto, Sri Lestari benar-benar merasa ketakutan.

Di dalam gubuk gelap tanpa cahaya itu, ia menangis semalaman sambil memeluk perutnya. Tidak ada lagi kekayaan yang terasa berarti. Tidak ada lagi kemewahan yang bisa menyelamatkannya.

Namun semua sudah terlambat.

Malam Jumat saat bulan purnama tiba, Sri Lestari kembali berjalan menuju pendopo gaib Sang Buto di tengah sawah berkabut.

Kabut merah memenuhi jalan setapak. Hujan turun miring tertiup angin. Bulan purnama menggantung pucat di langit malam.

Dan di kejauhan…

pendopo gaib itu kembali muncul.

Saat Sri Lestari memasuki kerajaan Sang Buto, suasana terasa berbeda.

Tidak ada penyambutan.

Tidak ada tarian.

Sang Buto duduk di singgasananya dalam amarah yang membuat seluruh pendopo terasa hidup. Di sisi kanan dan kiri singgasana berdiri para penari terdahulu. Perempuan-perempuan yang dulu juga membuat perjanjian dengan Sang Buto demi kekayaan dan kemasyhuran.

Kini wajah mereka pucat dan kosong.

Mereka tidak lagi terlihat seperti manusia.

Saat itulah Sri Lestari sadar…

dirinya hanyalah penari berikutnya yang akan dikutuk selamanya.

Tubuhnya mulai melemah. Kandungannya bereaksi terhadap dunia gaib di sekitarnya. Gamelan berbunyi semakin keras sementara para penari terkutuk mulai menari mengelilinginya dalam gerakan yang sama.

Kabut merah memenuhi pendopo.

Dan malam itu, sesuatu lahir dari kutukan Sang Buto.

Bukan manusia.

Melainkan sosok kecil gelap yang berdiri diam di sisi Sang Buto seperti bagian dari kerajaan gaib itu sendiri.

Sri Lestari mencoba meraihnya.

Namun Sang Buto menggenggam tangan makhluk kecil itu dan membawanya menjauh.

Malam itu, Sri Lestari kehilangan segalanya.

Bukan hanya cinta.

Bukan hanya hidupnya.

Tetapi juga sesuatu yang bahkan lebih berharga daripada dirinya sendiri.

Saat fajar datang, pendopo gaib itu menghilang bersama kabut merah dan suara gamelan.

Yang tersisa hanyalah tubuh Sri Lestari di pematang sawah desa.

Sendirian.

Kebaya hitamnya rusak dan penuh lumpur. Hujan gerimis turun perlahan di atas tubuh dinginnya sementara langit fajar tampak pucat kelabu.

Warga desa menguburkannya tanpa pernah benar-benar memahami apa yang terjadi malam itu.

Namun kutukan Sang Buto ternyata tidak pernah selesai.

Beberapa bulan kemudian, warga mulai mendengar kembali suara gamelan dari tengah sawah setiap malam Jumat saat bulan purnama muncul.

Dan mereka yang cukup sial melihat ke arah kabut malam bersumpah pernah melihat seorang perempuan menari sendirian di tengah hujan.

Perempuan itu memakai kebaya hitam mewah yang compang-camping. Selendang merahnya bergerak tertiup angin malam. Rambut panjangnya basah dan berantakan menutupi wajah pucatnya.

Gerakan tariannya masih indah.

Namun tidak lagi manusiawi.

Dan sejak malam itu…

warga desa tidak lagi menyebut namanya Sri Lestari.

Mereka menyebutnya…

SANG PENARI


---

Disclaimer: Cerita ini hanyalah karya fiksi dari imajinasi penulis. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, waktu, maupun kejadian, semuanya murni kebetulan dan tidak disengaja.
SANG PENARI — PART FINAL Hujan turun perlahan malam itu ketika Sri Lestari duduk sendirian di kamar mewah penginapan tempat ia biasa bertemu lelaki yang selama ini dicintainya. Tangannya gemetar memegang kain batik kecil yang membungkus ramuan dari dukun desa. Ia menatap kosong ke arah cermin. Tubuhnya mulai berubah. Dan jauh di dalam hatinya, Sri Lestari sadar bahwa kutukan itu akhirnya datang menagih janji. Ia mengandung anak dari lelaki manusia. Malam itu juga Lestari mendatangi sang pengusaha muda yang selama ini memberinya cinta dan harapan. Lelaki itu adalah satu-satunya tempat ia percaya bisa berlindung dari murka Sang Buto. Namun semua harapannya hancur. Di rumah megah milik lelaki itu, Sri Lestari justru melihat seorang wanita dan anak kecil menyambut kepulangan sang pengusaha. Lelaki itu ternyata telah memiliki keluarga. Dan lebih buruk lagi… ia tidak pernah benar-benar mencintai Sri Lestari. “Aku hanya menginginkanmu sebagai penari… bukan sebagai bagian hidupku.” Kalimat itu menghancurkan Sri Lestari sepenuhnya. Ia pergi di tengah hujan deras dengan tubuh gemetar dan hati yang hancur. Gaun hitam mewah yang dulu membuatnya dipuja kini terasa seperti kutukan yang membungkus tubuhnya. Dalam perjalanan pulang menuju gubuk reyot tempat semuanya dimulai, Sri Lestari merasa suara gamelan kembali terdengar dari kejauhan. Pelan. Memanggilnya. Dan untuk pertama kalinya sejak membuat perjanjian dengan Sang Buto, Sri Lestari benar-benar merasa ketakutan. Di dalam gubuk gelap tanpa cahaya itu, ia menangis semalaman sambil memeluk perutnya. Tidak ada lagi kekayaan yang terasa berarti. Tidak ada lagi kemewahan yang bisa menyelamatkannya. Namun semua sudah terlambat. Malam Jumat saat bulan purnama tiba, Sri Lestari kembali berjalan menuju pendopo gaib Sang Buto di tengah sawah berkabut. Kabut merah memenuhi jalan setapak. Hujan turun miring tertiup angin. Bulan purnama menggantung pucat di langit malam. Dan di kejauhan… pendopo gaib itu kembali muncul. Saat Sri Lestari memasuki kerajaan Sang Buto, suasana terasa berbeda. Tidak ada penyambutan. Tidak ada tarian. Sang Buto duduk di singgasananya dalam amarah yang membuat seluruh pendopo terasa hidup. Di sisi kanan dan kiri singgasana berdiri para penari terdahulu. Perempuan-perempuan yang dulu juga membuat perjanjian dengan Sang Buto demi kekayaan dan kemasyhuran. Kini wajah mereka pucat dan kosong. Mereka tidak lagi terlihat seperti manusia. Saat itulah Sri Lestari sadar… dirinya hanyalah penari berikutnya yang akan dikutuk selamanya. Tubuhnya mulai melemah. Kandungannya bereaksi terhadap dunia gaib di sekitarnya. Gamelan berbunyi semakin keras sementara para penari terkutuk mulai menari mengelilinginya dalam gerakan yang sama. Kabut merah memenuhi pendopo. Dan malam itu, sesuatu lahir dari kutukan Sang Buto. Bukan manusia. Melainkan sosok kecil gelap yang berdiri diam di sisi Sang Buto seperti bagian dari kerajaan gaib itu sendiri. Sri Lestari mencoba meraihnya. Namun Sang Buto menggenggam tangan makhluk kecil itu dan membawanya menjauh. Malam itu, Sri Lestari kehilangan segalanya. Bukan hanya cinta. Bukan hanya hidupnya. Tetapi juga sesuatu yang bahkan lebih berharga daripada dirinya sendiri. Saat fajar datang, pendopo gaib itu menghilang bersama kabut merah dan suara gamelan. Yang tersisa hanyalah tubuh Sri Lestari di pematang sawah desa. Sendirian. Kebaya hitamnya rusak dan penuh lumpur. Hujan gerimis turun perlahan di atas tubuh dinginnya sementara langit fajar tampak pucat kelabu. Warga desa menguburkannya tanpa pernah benar-benar memahami apa yang terjadi malam itu. Namun kutukan Sang Buto ternyata tidak pernah selesai. Beberapa bulan kemudian, warga mulai mendengar kembali suara gamelan dari tengah sawah setiap malam Jumat saat bulan purnama muncul. Dan mereka yang cukup sial melihat ke arah kabut malam bersumpah pernah melihat seorang perempuan menari sendirian di tengah hujan. Perempuan itu memakai kebaya hitam mewah yang compang-camping. Selendang merahnya bergerak tertiup angin malam. Rambut panjangnya basah dan berantakan menutupi wajah pucatnya. Gerakan tariannya masih indah. Namun tidak lagi manusiawi. Dan sejak malam itu… warga desa tidak lagi menyebut namanya Sri Lestari. Mereka menyebutnya… SANG PENARI --- Disclaimer: Cerita ini hanyalah karya fiksi dari imajinasi penulis. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, waktu, maupun kejadian, semuanya murni kebetulan dan tidak disengaja.
0 Komentar 0 Bagikan 597 Tampilan